My Memory











{Juni 5, 2010}   PANDANGAN MANUSIA MENURUT PENDAPAT “SAYA”

Pengetahuan kita tentang model manusia yang berkembang seutuhnya sampai saat ini masih didominasi oleh wawasan teoritis yang lahir dari ilmu pengetahuan barat. Kita mungkin sudah akrab dengan istilah-istilah seperti “manusia yang tidak diperbudak oleh dorongan instingtifnya” dari Sigmund Freud, “manusia yang mengaktualisasi dirinya” dari Abraham Maslow, ”dan manusia yang terindividuasi” dari Carl Jung. Pengaruh wawasan teoritis barat itu didukung oleh perangkat metodologi ilmu pengetahuan modern.
Selain itu para tokoh juga berpendapat mengenai manusia, seperti :

• Shidartha Gautama, pendiri agama budha. Ia berpendapat bahwa setiap manusia adalah pencipta atas kesehatan atau penyakit yang dideritanya sendiri.

• Stephen Covey, guru manajemen terkemuka. Ia berpendapat bahwa kita bukan manusia yang berada dlam perjalanan spiriyual, kita makhlik spiritual yang berada dalam perjalanan manusia.

• Albert Einstein, pemenang nobel fisika. Ia bependapat bahwa kita tidak dapat berputus asa akan kemanusiaan, karma kita sendiri adalah manusia.

• Dalai Lama, pemimpin spiritual Tibet. Ia berpendapat bahwa kita bisa hidup tanpa agama dan meditasi, tapi kita takan bertahan hidup tanpa kasih sayang manusia.
Dari sekian nama yang memberi pendapat tentang manusia, tredapat seorang ahli dari indonesia yang bernama Ki Ageng Suryomentaram salah satu jenius local dari jawa yang terkenal dengan ajaran-ajarannya tentang “ilmu kawaruh jiwa”. Ki Ageng Suryomentaram tumbuh dalam ruang waktu kebudayaan jawa (pedalaman) yang menjunjung tinggi asketisme hidup lewat laku mawas diri. Pemikirannya lahir dari laku spiritual dengan disiplin tinggi sehingga tidak berlebihan ketika hasilnya dianggap sebagai saripati realitas itu sendiri.
Penulusuran Ki Ageng untuk memperoleh model manusia yang mampu bertumbuh bertumpu pada prinsip transformasi. Artinya, untuk sampai pada kondosi kesehatan mental hakiki, seseorang harus mampu melakukan transformasi diri, dari manusia dengan kualitas “juru catat” kemudian menjadi “kramadangsa”, hingga mencapai model “manusia tanpa cirri”.


Rasa Kramadangsa

Setiap manusia pada awalnya bertindak sebagai juru catat yang mencatat segala hal yang dialami. Catatan-catatan itu berfunsi sebagai bank data yang akan muncul kembali ketika seseorang merespons situasi tertentu. Catatan yang sering diingat akan tumbuh subur, sedangkan catatan yang tidak sering diingat akan mati.

Ki Ageng mengidentifikasi ada sebelas catatan yang mengisi ruang rasa manusia, diantaranya : harta benda, kehormatan, kekuasaan, keluarga, golongan, kebangsaan, jenis, kepandaian, kebatinaan, ilmu pengetahuan, dan rasa hidup. Catatan-catatan itulah yang kemudian menghantarkan manusia mengalami rasa keramadangsa, yaitu tahap kesadaran yang menyatukan diri dengan catatan-catatan tersebut. Rasa keramadangsa berkembang setelah manusia dewasa, ketika dia sudah mampu memikirkan catatan-catatannya.

Manusia Tanpa Ciri

Seseorang yang mampu meloloskan diri dari jebakan rasa keramadangsa akan tumbuh menjadi “manusia tanpa ciri”. Ki Ageng menggambarkan manusia tanpa ciri sebagai sosok yang mampu menetapkan setiap persoalan dalam tempatnya melalui laku mawas diri. Mawas diri adalah sikap tidak merasa benar sendiri. Menjadi manusia tanpa ciri itu juga berarti mengembangkan catatan-catatan yang berdasarkan laku rasa, bukan berdasarkan laku pikir semata
Berbicara tentang manusia, berarti berbicara pula tentang media tempat manusia hidup. Media tempat manusia hidup adalah dunia. Untuk bisa memahami hakikat manusia maka harus pula memahami hakikat dunia dan hakikat kehidupan manusia di dunia. Konsep yang dapat digunakan untuk memahami hal itu adalah konsep kosmologi, yaitu bagaimana manusia harus mengembangkan sikap hidupnya sehubungan dengan kedudukannya sebagai mikrokosmos.

Konsep yang lainnya adalah konsep ‘mendiami dunia’ sebagaimana yang dikemukakan oleh Huijbers. Pada dasarnya konsep mendiami dunia mengandung arti pemenuhan kebutuhan atas aspek-aspek yang membentuk manusia.

Kesadaran manusia akan hakikatnya sebagai bagian dari kosmologi dan perannya sebagai mahluk yang ‘mendiami dunia’ maka lahirlah beberapa konsep yang dipakainya sebagai dasar manusia hidup. Konsep-konsep tersebut adalah hidup sekedarnya, takdir, dan cakra manggilingan. Apabila manusia tidak bisa menjaga hakikat dirinya dan hakikat hidupnya maka yang timbul adalah kegelisahan. Sumber dari kegelisahan adalah hawa nafsu dan sikap pamrih (tidak ikhlas). Kedua hal ini akan menyebabkan munculnya sikap keserakahan dan konflik. Keserakahan dan konflik akan memunculkan ketakutan, kekecewaan, dan pada akhirnya adalah kegelisahan. Sedangkan Dua kekayaan manusia yang paling utama ialah “Akal dan Budi” atau lazimnya disebut pikiran dan perasaan.

Disatu sisi akal dan budi atau pikiran dan perasaan tersebut telah memungkinkan munculnya tuntutan-tuntutan hidup manusia yang lebih daripada tuntutan hidup makhluk lain. Disisi lain akal dan budi memungkinkan munculnya karya-karya manusia yang sampai kapanpun tidak pernah akan dapat dihasilkan oleh makhluk lain. Cipta, karsa, dan rasa pada manusia yakni sebagai buah akal budinya terus melaju tanpa hentinya berusaha menciptakan benda-benda baru untuk memenuhi kebutuhan / hajat hidupnya. Baik yang bersifat jasmani maupun rohani. Dari proses ini maka lahirlah apa yang disebut kebudayaan dan pandangan terhadap hidup. Jadi pada hakikatnya, kebudayaan dan pandangan terhadap hidup ini tidak lain adalah segala sesuatu yang dihasilkan oleh akal budi manusia.

Biasanya orang akan selalu ingat, taat, kepada Sang Pencipta bila sedang dirudung kesusahan. Namun, bila manusia sedang dalam keadaan senang, bahagia, serta kecukupan, mereka lupa akan pandangan hidup yang diikutinya dan berkurang rasa pengabdiannya kepada Sang Pencipta.
Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :

1. Kurangnya penghayatan pandangan hidup yang diyakini.

2. Kurangnya keyakinan pandangan hidupnya.

3. Kurang memahami nilai dan tuntutan yang terkandung dalam pandangan hidupnya.

4. Kurang mampu mengatasi keadaan sehingga lupa pada tuntutan hidup yang ada dalam pandangan hidupnya.

5. Atau sengaja melupakannya demi kebutuhan diri sendiri.

Pandangan hidup tidak sama dengan cita-cita. Sekalipun demikian, pandangan hiup erat sekali kaitannya dengan cita-cita. Pandangan hidup merupakan bagian dari hidup manusia yang dapat mencerminkan cita-cita atau aspirasi seseorang dan sekelompok orang atau masyarakat.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: