My Memory











{November 2, 2012}   Strategy of Information Integration (SII) | Oleh Sepriani Kenyo Anggun

Assalamuallaikum wr. wb.

Setelah beberapa minggu yang lalu saya sempat membahas tentang Pengantar Bisnis Informatika, maka pada kesempatan kall ini saya akan membahas tenrang Strategy of Information Integration (SII)

 

Strategy of Information Integration (SII)

Dunia persaingan dalam bidang bisnis untuk perusahaan-perusahaan sekarang ini memaksa mereka harus menata ulang keuangannya. Mereka memiliki strategi untuk menguatkan bisnis yang sedang mereka jalani dengan cara melakukan merger dengan perusahaan-perusahaan lainnya untuk menjadi satu perusahaan. Hubungan (relationship) dengan perusahaan lain merupakan bagian dari strategi pemasaran yang penting, karena hal ini merupakan strategi jangka panjang yang sangat penting bagi perusahaan dalam meningkatkan kinerja pemasaran. Terganggunya hubungan akan membawa akibat yang kurang baik bagi perusahaan karena itu pemeliharaan hubungan perlu dilakukan sebagai usaha menjaga strategi integrasi. Dalam menghadapi ini, metodologi yang digunakan harus mampu menjawab berbagai kendala teknis ataupun non teknis yang sekiranya sering dijumpai pada setiap isu penggabungan. Artinya, metodologi yang dipakai harus dibangun dengan memperhatikan berbagai aspek tersebut.

 

 

Salah satu permasalahan rumit yang kerap dijumpai para praktisi teknologi informasi adalah ketika menghadapi tantangan dimana sejumlah sistem informasi yang berbeda harus diintegrasikan. Peristiwa yang dimaksud misalnya terjadi pada saat aktivitas merger dan akuisisi, penggabungan satu atau dua institusi pemerintahan, kerjasama program berbasis lintas sektoral, dan lain sebagainya. Berdasarkan pengalaman, kompleksitas permasalahan yang dijumpai tidak saja bertumpu pada aspek teknis, namun kerap lebih menonjol pada hal-hal yang bersifat non-teknis (baca: politis) yang biasanya didominasi oleh isu “ego sektoral” pada masing-masing institusi yang terlibat. Tanpa adanya strategi yang jelas, maka sering kali kegiatan integrasi sistem tersebut menemui jalan buntu, atau tidak berhasil. Kunci permasalahan terjadinya fenomena tersebut pada dasarnya terletak pada kesalahan pemilihan pendekatan atau metodologi proses terkait.

 

FENOMENA INTEGRASI SISTEM INFORMASI

Tuntutan globalisasi dan persaingan bebas serta terbuka dewasa ini secara langsung telah memaksa berbagai organisasi komersial seperti perusahaan maupun non komersial seperti pemerintah untuk menata uang platform organisasinya.
Dalam konteks ini, berbagai inisiatif strategi ditelurkan oleh sejumlah praktisi organisasi yang masing-masing mengarah pada keinginan berkolaborasi atau berkooperasi untuk menyusun kekuatan dan keunggulan baru dalam bersaing. Terkait dengan hal ini, sejumlah fenomena yang menggejala akhir-akhir ini antara lain:

  • Terjadinya merger dan akuisisi antar dua atau sejumlah organisasi dalam berbagai industry vertikal, seperti: perbankan, asuransi, manufaktur, pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya.
  • Restrukturisasi korporasi yang dilakukan dengan mengubah pola relasi antar anak-anak perusahaan dalam sebuah konsorsium grup usaha;
  • Strategi kerjasama berbagai institusi pemerintah secara lintas sektoral untuk meningkatkan kinerja birokrasi;
  • Tuntutan berbagai mitra usaha dalam dan luar negeri untuk meningkatkan kualitas aliansi dan kolaborasi; dan lain sebagainya.

Adanya Berbagai fenomena information integration memberikan dampak bagi manajemen organisasi. Hal ini mengharuskan pihak dalam organisasi untuk melakukan Strategy of Information Integration (Strategi informasi terintegrasi).

Evolusi dari strategi informasi integrasi adalah sebagai berikut :

Tahap 1:

Exploit Local Capabilities (Ekploitasi Kapabilitas Lokal)

Yaitu melakukan pengembangan maksimal terhadap kapabilitas sistem informasi masing-masing organisasi.

 

Tahap 2:

Conduct Soft Integration (Lakukan Integrasi Tak tampak)

Yaitu masing-masing sistem informasi tetap melayani organisasi terkait dan dilakukan proses integrasi melalui penambahan komponen-komponen baru dari hasil diskusi beragam organisasi yang terlibat.

 

Tahap 3:

Share Common Resources (Berbagi Pakai)

Yaitu saling berbagi sumber daya dari masing-masing organisasi guna mendapatkan hasil yang efisien dan optimal.

 

Tahap 4:

Redesign Process Architecture (Mendesain ulang Arsitektur Proses)

Dalam melakukan tahap sebelumnya (tahap 3), berbagi sumber daya biasanya dapat dilakukan untuk kepentingan internal. Ketika merujuk pada kepentingan eksternal, maka perlu mendesain ulang agar mendapatkan hasil yang lebih efektif.

 

Tahap 5:

Optimize Network Infrastructure (Optimalkan Infrastruktur)

Rancangan aneka ragam proses baru yang dihasilkan dari tahap sebelumnya tidak serta merta berjalan efektif, efisien, optimal dan terkontrol dengan baik apabila tidak dilakukan penyesuaian pada infrastruktur organisasi yang ada. Dalam hal ini maka optimalisasi sistem informasi terintegrasi yang bercikal bakal pada masing-masing sistem informasi organisasi akan menghasilkan sebuah sistem dengan komponen lengkapnya seperti: perangkat keras, perangkat lunak, infrastruktur jaringan, sumber daya manusia, sistem database terpadu dan lain sebagainya.

 

Tahap 6:

Transform Organization Landscape (Transformasi Organisasi)

Tahap terakhir yang akan dicapai sejalan dengan semakin eratnya hubungan antar organisasi adalah transformasi masing-masing organisasi. Transformasi yang dimaksud pada dasarnya merupakan akibat dari dinamika kebutuhan lingkungan eksternal organisasi yang memaksanya untuk menciptakan sebuah sistem organisasi yang adaptif terhadap perubahan apapun.

 

Sistem informasi masa kini yang dibangun dengan menggunakan paradigma rumah tumbuh dan berbasis komponen (baca: object-based approach) secara tidak langsung akan menular kepada karakteristik dari organisasi terkait. Artinya, sejumlah hal baru akan tumbuh menggantikan sesuatu yang telah lama dianut, misalnya:

  • Transformasi dari organisasi berbasis struktur dan fungsi menjadi organisasi berbasis proses;
  • Transformasi dari organisasi berbasis sumber daya fisik menjadi organisasi berbasis pengetahuan;
  • Transformasi dari organisasi berbasis kebutuhan pemilik kepentingan internal menjadi organisasi berbasis kebutuhan pemilik kepentingan eksternal;
  • Transformasi dari organisasi berbasis rantai nilai fisik menjadi organisasi berbasi rantai nilai virtual; dan lain sebagainya.

 

Tahapan Setelah Integrasi
Dengan memperhatikan rangkaian kejadian di atas, terlihat bahwa proses integrasi merupakan sebuah strategi transisi yang terjadi secara alami, bukan dipaksakan oleh satu atau dua kubu kepentingan tertentu. Hal inilah yang sebenarnya menjadi kunci untuk melumerkan ketegangan politis yang terjadi dalam setiap proyek penggabungan atau kolaborasi sistem informasi. Dalam prakteknya, rangakaian tahapan tersebut akan berlangsung membentuk siklus hidup yang tidak berkesudahan, sejalan dengan keinginan setiap organisasi untuk selalu memperbaiki kinerjanya dari waktu ke waktu. Tentu saja setelah melalui proses evaluasi dan pembelajaran yang terjadi secara kontinyu dan berkesinambungan.

 

SUMBER:

http://www.batan.go.id/sjk/eII2006/Page02/P02h.pdf

http://lindavirgo.wordpress.com/2010/11/01/sii-strategy-of-information-integration/



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: